Minggu, 29 April 2012

ANTAR AJONG PADA MASYARAKAT PALOH;ANTARA TRADISI DAN KEPERCAYAAN

Pendahuluan

Mengenal sistem kepercayaan pada masyarakat tertentu tidak terlepas dari tradisi leluhur atau nenek moyang mereka. Pada umumnya masyarakat terdahulu mempunyai ragam sistem kepercayaan, salah satunya adalah kepercayaan terhadap roh-roh. Berbicara masalah sistem kepercayaan tentu berkaitan dengan asal-usul ajaran agama secara global. Menurut Dadang Kahmad (2000: 37-38) para teolog membedakan agama yang ada di dunia ini menjadi dua kelompok besar, yakni spiritualisme dan materialisme. Spiritualisme merupakan ajaran penyembah sesuatu (zat) yang gaib sedang materialisme adalah penyembahan kepada yang maha kuat dalam wujud materi atau benda kongkrit.
Selain itu, bentuk penyembahan atau pemujaan yang biasa dikenal dengan istilah animisme dan dinamisme dari dulu hingga sekarang masih dilakukan sebagian masyarakat. Keberadaan kedua paham atau aliran ini tidak terlepas dari sejarah bangsa Indonesia. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa Hindu dan Budha telah hadir lebih awal dalam peradaban nusantara. Masyarakat kita telah mengenal kedua agama budaya daripada agama Islam (islam-penamuda.blogspot.com). Dan itu dapat dikatakan salah satu fenomena sosial keagamaan yang terjadi di masyarakat. Sebab, hal ini berkaitan dengan persoalan kepercayaan atau keyakinan pada umat beragama. Jika tidak dipahami secara benar maka akan muncul beragam anggapan dan klaim bahwa bentuk kepercayaan semacam itu harus dihapuskan karena menyimpang dari kemurnian ajaran suatu agama, tanpa memandang terlebih dahulu sebagai fenomena real di masyarakat yang mentradisi. Jika demikian sangat berpotensi muncul konflik yang mengarah pada bentuk pertikaian dan anarkisme. Hal inilah yang tidak diinginkan terjadi sebab dapat mencoreng nama baik suatu agama dan masyarakatnya.
Dengan pijakan di atas penulis memilih salah satu fenomena tersebut yang berdekatan dengan daerah asal penulis sendiri, yakni antar ajong pada masyarakat Paloh Kabupaten Sambas. Sesuatu yang menarik pada ritual antar ajong ini adalah pemaknaannya dari dahulu hingga sekarang memiliki pergeseran. Dan ini berarti dalam hal pemaknaan ritual telah mengalami perkembangan, ada kemungkinan akibat pengaruh perkembangan zaman dan paradigma masyarakat setempat. Selain itu, instansi pemerintah setempat atas nama dinas Kombudpar (Komunikasi Budaya dan Pariwisata) Kabupaten Sambas ingin melestarikannya sebagai salah satu aset pariwisata daerah.
Secara etis, di sini kita tidak berhak mengklaim sesuatu itu benar atau salah sebelum mengkaji dan mengenal jauh sesuatu itu. Begitu halnya dalam mempelajari dan memahami suatu sistem kepercayaan yang berwujud ritual dan sebagainya. Di sini akan dikaji dari latar belakangnya, bagaimana ritual tersebut dilakukan, apa maknanya dan dampaknya terhadap masyarakat sekitar. Dengan demikian, tujuan penulisan makalah ini dapat tercapai yaitu memberikan pencerahan kepada masyarakat terhadap apa yang mereka lakukan, sehingga antar ajong itu tidak dipandang sebagai tradisi ritual semata yang harus diikuti melainkan sebagai peninggalan leluhur yang sarat dengan nilai budaya bangsa timur. Selamat mengkaji.
A. Mengenal Historis Antar Ajong
Salah satu tradisi masyarakat Desa Tanah Hitam Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas adalah kegiatan Antar Ajong. Menurut Awang Bujang (74), seorang pawang senior di Kecamatan Paloh, Antar Ajong sudah dilakukan masyarakat setempat sejak Zaman Kerajaan Majapahit, sebelum Kesultanan Sambas berdiri. Waktu itu, secara periodik masyarakat mengirimkan atau mengantar upeti kepada Kerajaan Majapahit berupa hasil-hasil bumi menggunakan perahu lancang kuning (Ajong). Setelah Kesultanan Sambas berdiri, pengiriman upeti tersebut tidak dilakukan lagi ( pontianakpost.com/berita). Dengan kata lain, masa awal munculnya antar ajong ini adalah bentuk hubungan pemerintahan dengan kerajaan Majapahit, yakni sudah menjadi lumrah jika suatu wilayah yang telah dikuasai sebuah kerajaan, maka rakyat di wilayah taklukannya tersebut harus patuh pada segala aturan kerajaan. Salah satu aturan tersebut adalah membayar upeti pada pihak kerajaan. Jadi saat itu, tidak ada kaitannya dengan keyakinan.
Selain itu, amanah dari para leluhur bahwa tradisi ini jangan sampai hilang, maka seiring waktu, makna dari Antar Ajong tersebut mengalami pergeseran. Antar Ajong menjadi sebuah ritual yang dilakukan untuk menghindarkan masyarakat dari segala hal negatif seperti wabah penyakit, hama tanaman yang merajalela dan bencana alam. Ritual ini juga sebagai pertanda dimulainya masa bercocok tanam padi.( pontianakpost.com/berita).
Pengaruh Animisme dan Dinamisme terhadap Melayu Sambas
Sebelum Islam datang, alam Melayu Sambas sudah dipengaruhi oleh alam ajaran agama Hindu. Tercatat kerajaan Hindu Majapahit pernah memberikan pengaruh terhadap kerajan Sambas (pontianakpost.com). Majapahit sebagai Kerajaan Hindu tentu sangat kental dengan animisme dan dinamisme[1] di dalam peri kehidupan masyarakat pada waktu itu. Sehingga, Munawar M.Saad (2005: 69) mengatakan meskipun orang Melayu Sambas beragama Islam, pengaruh kepercayaan tradisional itu masih melekat kuat pada sebagian mereka.
Salah satu bentuk animisme dan dinamisme tersebut adalah Antar Ajong ini. Antar Ajong sebagai tradisi masyarakat Melayu Sambas, bahwa setiap tahun di bulan musim tanam, bulan Agustus diadakan suatu tradisi pantai disebut dengan Antar Ajong. Ada yang mengatakan asal muasal Antar Ajung ini adalah dilakukan untuk membalas jasa para leluhur yang telah datang untuk memberikan rezeki berupa padi kepada penduduk pantai.
Untuk menghormati para leluhur dibuatlah semacam ’jung kecil’ yang diumpamakan ajong milik para leluhur yang berjasa itu. Ke dalam ajong tersebut diletakkan sesajian berupa beras atau padi, minyak kelapa, ketupat, ayam jantan yang masih hidup, dan banyak lagi bahan-bahan yang lain, persis seperti bahan-bahan yang ada dalam ajong milik para leluhur yang pernah mereka lihat itu, kemudian dilepas ke laut (pontianakpost.com).
Antar ajong merupakan salah satu contoh amalan-amalan masyarakat pada alam Melayu Sambas yang sudah turun temurun hingga pada hari ini. amalan-amalan yang lain seperti bertepung tawar melahirkan, berkhitan atau besunat. Amalan-amalan itu merupakan tradisi masyarakat Melayu Sambas yang sulit untuk dihilangkan (pontianakpost.com). Dengan demikian, jelaslah bahwa kehidupan masyarakat Melayu Sambas khususnya pada tradisi ritual banyak dipengaruhi animisme dan dinamisme bahkan sebelum agama budaya yakni Hindu dan Budha muncul di Indonesia.

B. Dari Persiapan Hingga Prosesi

1. Persiapan Ajong dengan Musyawarah dan Permohonan Doa
Melalui masyarakat yang dituakan maka dilakukan musyawarah masyarakat untuk menentukan hari atau tanggal pelaksanaan antar ajong. Apabila telah disepakati maka masyarakat secara bersama-sama mempersiapkan segala perangkat yang diperlukan khususnya untuk mencari kayu atau pohon di hutan kampung yang tepat untuk dijadikan bahan ajong tersebut. Dalam menentukan pohon tersebut terlebih dahulu dilakukan renungan oleh tetua untuk mendapatkan petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa dengan melakukan pembacaan doa bersama. Apabila kayu tersebut sudah ditemukan maka dilakukan pengasapan atau pembersihan kayu tersebut dari roh-roh yang jahat, dengan harapan agar kayu tersebut tetap mampu membawa segala beban yang terdapat dalam ajong tersebut. Sebagaimana Hendropuspito (1983: 42) menyebutkan dalam upacara ini benda-benda lambang yang dipercaya memiliki kekuatan guna maksud tersebut. Pembuatan ajong tersebut dilakukan oleh masyarakat secara bergotong royong dari mulai memotong, membelah bahkan hingga mengecat serta memberi bentuk layar ajong tersebut. Sebagai informasi bahwa ajong yang didesain seperti layaknya perahu layar tersebut juga diisi dengan beberapa muatan seperti telur ayam, ratteh, beras kuning dan sebagainya (pontianakpost.com).
Selain itu, sehari sebelum ajong diantar didahului oleh kegiatan yang disebut ratib, yaitu suatu kegiatan mengagung-agungkan asma Allah disertai doa selamat dan doa tolak bala (sambas.go.id/news). Hemat penulis kegiatan ratib ini merupakan salah satu hasil dari pengakulturasian ajaran Islam ke dalam tradisi lokal yang sebelumnya sangat kental dengan unsur dari kepercayaan Hindu. Sebab, proses Islamisasi yang dilakukan pada zaman Kesultanan Sambas sangat menghargai eksistensi tradisi lokal tersebut.

2. Upacara “Besiak”

Pada malam harinya dilanjutkan dengan acara mengisi ajung, yaitu ajung diisi dengan bermacam-macam wabe atau hama penyakit. Baik penyakit untuk tanaman, ternak maupun penyakit yang bisa menjangkit kepada manusia. Inilah yang disebut masyarakat setempat dengan upacara besiak. Menurut Awang Bujang, Besiak adalah sebuah kegiatan untuk menangkap roh-roh jahat penguasa hal negatif guna dimasukkan ke dalam Ajong. Proses penangkapan roh jahat tersebut juga dilakukan dengan menggunakan roh-roh (baik) penguasa alam gaib di kawasan setempat yang merasuki pawang.
Beberapa pawang yang didampingi "peradi" (asisten pawang yang menjembatani komunikasi dengan roh) pun sudah siap dengan pakaian khusus berwarna kuning dan perlengkapannya. Pemain musik gendang, gong dan rebana pun telah bersedia. Tampak satu tong besar air yang dicampur dengan berbagai jenis bunga-bungaan di depan para pawang. Air ini nantinya akan digunakan warga untuk merendam benih padi sebelum ditanam.
Tak lama kemudian, upacara dimulai yang ditandai dengan pembakaran kemenyan oleh peradi sambil mengambur-hamburkan "ratteh[2]" dan beras kuning ke sekeliling penonton. Aroma menyengat yang memberikan nuansa mistis dan merindingkan bulu roma serta-merta menyebar ke seluruh penjuru. Lalu, dimulailah proses pemanggilan roh. Ketika memanggil roh, peradi dan pawang bersahut-sahutan melantunkan syair dan lagu khusus yang diiringi dengan pukulan gendang dan alat musik lainnya.
Sebelum syair habis dilantunkan, tiba-tiba, terjadi perubahan pada sang pawang. Tubuhnya berkelojotan sesaat dan matanya nanar. Itu diyakini sebagai pertanda bahwa tubuhnya telah disusupi oleh roh. Peradi kemudian berkomunikasi dengannya dan menyatakan maksud pemanggilan. Roh baik yang datang itu diminta untuk "menangkap" roh-roh jahat dan memasukkannya ke dalam ajong.
Pawang yang sudah dirasuki roh itu terkadang bertingkah aneh-aneh. Ada kalanya ia memanjat di atas atap rumah, pohon dan sebagainya. Setelah itu, ia akan mengelilingi ajong sambil menaburkan ratteh atau mengipasinya dengan mayang pinang. Biasa pula ia minta dihibur dulu dengan nyanyian dan tarian. Tak heran dalam prosesi ini, beberapa penari raddad memang telah disiapkan. Uniknya, di sini penari raddad yang ditampilkan terdiri atas ibu-ibu yang telah berumur, bukan para remaja.
Menurut penulis, dari awal persiapan penentuan kapan waktu antar ajong sampai penari raddad sekalipun yang lebih diutamakan adalah mereka yang dituakan. Selain mereka lebih berpengalaman dan memahami betul prosesi tradisi ini, ini juga merupakan salah satu bentuk penghargaan dan penghormatan bagi tetua atau sesepuh. Pepatah melayu mengatakan, “mereka lebih dulu makan garam”. Artinya merekalah orang yang berpengalaman dalam tradisi ini.
Pawang biasanya dirasuki oleh beberapa roh. Ini diketahui dari pengakuan roh yang meminjam tubuh pawang. Ketika ditanya peradi, ia memperkenalkan diri dengan nama yang berbeda-beda. Tak jarang juga ditemukan penonton yang ikut-ikutan dirasuki roh. Upacara baru dinyatakan selesai setelah roh tersebut menyatakan bahwa semua roh jahat yang ada dan potensial mengganggu telah ditangkap dan dimasukkan ke dalam ajong. Dengan demikian, ajong-ajong itu sudah siap untuk dihanyutkan ke laut.

3. Ritual Pelepasan Ajong Ke Laut

Apabila ajong sudah selesai dilaksanakan, maka dilakukan penurunan ajong pada parit kecil sebagai ujud pengadaptasian untuk mengarungi lautan luas. Waktu dilakukan pelepasan antar ajong kelautan lepas, terlebih dahulu semua ajong-ajong punya masyarakat itu disusun secara sejajar di pinggir pantai dengan corak dan warna yang sangat bervariasi. Karena kegiatan antar ajong sudah merupakan tradisi masyarakat Paloh, maka seluruh masyarakat petani khususnya di daerah tersebut akan datang berduyun untuk menyaksikan prosesinya yang untuk mengetahui bagaimana perjalanan ajong-ajong tersebut menuju lautan lepas. Namun sebelum ajong dilepas terlebih dahulu diantar dengan tradisi joget dan bahkan pencak silat yang diiringi dengan bunyi-bunyian gendang tradisional masyarakat setempat.
Usai acara hiburan tersebut dan setelah mendapatkan instruksi dari pawang, para pemilik ajong lalu memanggul ajong mereka masing-masing. Dengan aba-aba berupa shalawat nabi, mereka berlari sejadi-jadinya menuju laut. Pelepasan ajong harus dilakukan secara serentak oleh pemilik ajong, ajong tersebut digiring ke bibir laut yang selanjutnya akan terbawa arus menuju lautan lepas. Mereka baru kembali ke daratan setelah ajong dinilai aman berlayar. Proses perjalanan ajong-ajong tersebut mempunyai arti yang apabila waktu dilepas mengalami tingkat kesulitan untuk berlayar maka diasumsikan masih adanya rasa belum keikhlasan begitu juga sebaliknya apabila ajong tersebut melaju secara cepat dengan tanpa hambatan maka diasumsikan bahwa masa tanam masyarakat akan mengalami masa jayanya.
Tujuan umum dari tradisi antar ajong adalah merupakan proses mengantarkan sementara para pengganggu tanaman-tanaman padi yang akan ditanam oleh masyarakat agar dapat pergi dalam sementara waktu. Prosesi antar ajong ini ada tiga fase yang pertama prosesi antar ajong seperti yang disebutkan di atas dan fase kedua adalah masa pemberiatahuan dari penghuni ajong yang biasanya ada isyarat enam bulan kemudian yang intinya memberitahukan bahwa sudah saatnya musim panen dilakukan, dan ini akan diiringi dengan masa makan emping[3]fase ketiga adalah masa antar upeti ke Istana dengan bahan-bahan seperti beras kuning, beras pulut, retih, emping dan padi yang jumlahnya serba sedikit sebagai syarat, biasanya dilakukan pada akhir tahun atau akhir masa panen padi. bersama-sama antar masyarakat secara terbuka dan
Pada malam itu pula disediakan air untuk mandi benih. Setelah antar ajung barulah air tersebut dibagikan kepada masyarakat untuk memandikan padi yang akan disewakan. Keesokan harinya baru ajung diturunkan diluncurkan ke laut dengan maksud membawa bermacam-macam wabah penyakit dan bagi desa yang ditinggalkan menjadi aman dan tentram mendapatkan rizki yang berlimpah dari Tuhan (hasil panen yang berlimpah).

C. Makna Di sebalik Antar Ajong

Awang Bujang menerangkan, inti Ritual Antar Ajong ini adalah mengumpulkan roh-roh jahat untuk kemudian mengirimnya pergi berlayar. Hal ini dilakukan agar roh-roh jahat penguasa segala hama, wabah dan bencana itu tidak mengganggu warga berikut sawah ladang serta kebunnya. Sebagai kompensasi, warga memberikan bekal yang diperlukan roh itu selama berlayar berupa ratteh, beras kuning, garam, pisang, kelapa, kue cucur, ketupat dan barang-barang keperluan lain yang dibutuhkan rumah tangga.
“Bekal itu hanya cukup untuk sembilan bulan. Jadi, mereka (roh-roh jahat) itu akan kembali lagi setelah sembilan bulan," katanya. Namun, hal tersebut tidak akan menjadi masalah karena masa panen sudah selesai (padi tahunan yang berumur sekitar delapan bulan). Untuk menghibur roh-roh jahat itu supaya tidak marah atau merajuk, maka dibuatlah emping beras.
"Inilah sebabnya mengapa orang-orang dulu membuat emping yang kemudian diletakkan secukupnya pada alat-alat yang digunakan ketika bertani atau berkebun (cangkul, arit, parang dan lain-lain). Dengan begitu, roh-roh yang dikirim berlayar tidak akan marah," jelasnya. Proses yang sama diulang kembali ketika memasuki musim tanam tahun berikutnya. "Istilahnya, roh-roh jahat itu dibuat kecele," timpal Joko Waluyo. Untuk menentukan kapan Ritual Antar Ajong dimulai, ternyata tidak sembarangan. Terlebih dahulu harus ada wangsit atau alamat yang diterima oleh pawang dari alam gaib.

Antar Ajong; Antara Tradisi dan Kepercayaan

Awang Bujang mengakui, ada sebagian masyarakat yang menganggap proses ini sebagai perbuatan syirik. Namun, kata dia, masyarakat hendaknya tidak mencampuradukkan masalah budaya dan tradisi dengan agama. Pangeran Ratu H Winata Kesuma, Pemangku Adat Kesultanan Sambas, ketika diwawancara juga menyampaikan hal yang senada (sambas.go.id/news).
Antar ajong jika disebut sebagai satu bentuk tradisi bisa saja. Sebab tradisi local ini dilakukan turun-temurun dan menjadi ritual dikehidupan pada masyarakat tertentu. Adapun dinamakan sebagai salah satu kepercayaan juga bisa, sebagaimana diketahui bahwa di dalam ritual antar ajong ini mengandung ragam unsur kepercayaan kepada sesuatu bahkan terkadang perihal yang dipercayai itu berada di luar jangkauan akal manusia. Dalam memandang atau menilai suatu bentuk ritual yang tergolong tradisi murni atau kepercayaan tambahan, yang penting menjadi perhatian adalah ritus, para pemimpin, dan ajarannya. Meski ini meminjam pendapat Munawar M.Saad (2005: 69) yang mengatakan bahwa ketiga aspek tersebut merupakan hal terpenting dalam membedakan sesuatu itu sistem kepercayaan atau agama. Hemat penulis, perbedaan antara tradisi dan kepercayaan sangatlah tipis. Bahkan bisa jadi di dalam ritual tertentu lebih mengutamakan tradisi daripada kepercayaan pada ajaran agamanya. Sehingga tidak jarang dijumpai dalam hal pelaksanaan tradisi tersebut berseberangan dengan kepercayaan yang dianut (dalam hal ini adalah agama).
Demikian pula pendapat yang menyanggah mereka yang mengatakan antar ajong itu di klaim sebagai perbuatan syirik itu dianggap sebagai mencampuradukan persoalan tradisi, budaya dengan agama sehingga perkataan tersebut dinilai salah. Begitu juga sebaliknya, jangan sampai perbedaan paradigma atau sudut pandang dalam memahami eksistensi tradisi lokal ini memicu perdebatan yang berujung kepada pertikaian tanpa solusi.
Alangkah lebih baik kembali pada penggalian khazanah peninggalan masa lampau seperti ragam bentuk nilai luhur, tradisi, budaya dengan mengkaji lebih detail sehingga bermanfaat untuk dijadikan sebagai bahan perbandingan di masa mendatang. Terlepas itu semua menyimpang atau tidak dengan ajaran agama.
Pemerintah berwacana untuk mengemas tradisi Antar Ajong ini menjadi sebuah potensi wisata yang menjanjikan. Di luar momen ritual ini, direncanakan akan diadakan sebuah festival antar ajong yang menampilkan utusan dari seluruh desa di Kecamatan Teluk Keramat dan Paloh. Kegiatan ini diyakini akan dapat menarik minat para wisatawan untuk mengunjungi Sambas ( pontianakpost.com/berita/). Inilah perbedaan paradigma, dalam konteks budaya berwacana seperti itu tidaklah dilarang asalkan terlebih dahulu disosialisasikan kepada masyarakat terutama tokoh masyarakat, tokoh agama dan sebagainya agar bisa bermusyawarah bersama pemerintah. Hal demikian perlu dilakukan demi terciptanya ketentraman antar umat beragama, masyarakat dan pemerintah. Langkah konkrit seperti ini pula yang dapat membimbing masyarakat awam tentang seluk-beluk dan penilaian tradisi lokal khususnya antar ajong ini dari berbagai sudut pandang.

D. Antar Ajong Bagi Kehidupan Masyarakat Paloh

Paloh sebagai salah satu kawasan pesisir di Kabupaten Sambas dan memiliki kekayaan alam yang melimpah. Ini terbukti dari hasil tangkapan ikan dari para nelayan, lahan yang cukup subur terutama untuk perkebunan dan pertanian sehingga memungkinkan masyarakat di sana memilih bekebun dan bertani. Dengan alam yang begitu potensial tersebut sudah sewajarnya masyarakat setempat bersyukur kepada Pencipta alam ini.
Namun, kekhawatiran terhadap musibah yang melanda, wabah dan penyakit, kegagalan panen akibat hama dan berbagai gangguan terhadap desa mereka masih muncul disebagaian masyarakat ini. Berbagai cara mereka lakukan untuk menanggulangi berbagai gangguan tersebut. Bagi mereka yang masih percaya bahwa segala gangguan itu bersumber dari roh-roh jahat yang menyebar di beberapa penjuru desa seperti di hutan, laut, gunung dan sebagainya maka salah satu tradisi lokal yang masih dilakukan adalah antar ajong. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, antar ajong dikenal masyarakat setempat sebagai salah satu media pengecoh roh-roh jahat yang menguasai lingkungan sekitar desa (pontianakpost.com).
Keberadaan antar ajong juga dirasakan manfaatnya oleh sebagian masyarakat. Dengan diadakannya antar ajong, masyarakat dapat mengetahui musim tanam padi yang sesuai dan tepat menurut kepercayaan setempat. Selain itu, kegiatan ini telah dijadikan masyarakat untuk mempererat hubungan silaturahmi di antara mereka. Dapat disaksikan dari persiapan antar ajong diawali dengan musyawarah antar tetua masyarakat, begitupula dimulai dari pencarian bahan ajong, pembuatan, penyeiaan sesajian, sampai upacara ritual pelepasan ajong ke laut itu semua dilakukan secara bergotong-royong antar desa.
Selain itu, antar ajong telah menjadi sarana hiburan menarik baik bagi masyarakat setempat maupun masyarakat luar. Bahkan tradisi ini dapat digali dan dijadikan sebagai aset wisata yang menjanjikan sehingga imbasnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Paloh. Paloh menjadi salah satu tempat yang dikenali dengan ikon antar ajongnya. Di sela-sela acara tahunan ini masyarakat dapat berjualan sehingga menambah pendapatan mereka.
Penutup
Dari uraian singkat di atas dapat diketahui bahwa antar ajong merupakan salah satu tradisi lokal pada masyarakat Paloh. Tradisi ini muncul akibat pengaruh dari kekuasaan kerajaan Majapahit sebelum Kerajaan Islam memasuki Sambas. Sehingga, corak yang dikenal dan masih kental pada tradisi antar ajong adalah ritual yang bernuansa animisme dan dinamisme, disamping itu pula ditemukan unsur-unsur ajaran Islam di dalamnya.
Antar ajong menjadi salah satu ritual tahunan masyarakat Paloh. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, tradisi ini memiliki makna dan tujuan tersendiri. Antar ajong telah mengalami pergeseran makna seiring zaman berlalu. Adapun tujuan utamanya adalah sebagai media penghibur roh-roh jahat yang ingin menggagalkan panen para penduduk setempat.
Sebagai tradisi lokal yang turun-temurun, antar ajong memberikan warna tersendiri di dalam kehidupan masyarakat. Antar ajong menjadi simbol kekeluargaan, persaudaraan, dan penghargaan pada masyarakat setempat. Sedangkan sebagai aset wisata, menurut pemerintah setempat tradisi ini sangat potensial dikembangkan dan dilestarikan tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Sebab, bagaimanapun bentuk tradisi lokal tersebut sudah tentu mengandung nilai-nilai luhur dari para pendahulu. Sebagai generasi harapan bangsa sepantasnya bersyukur dan menghargai hasil karya mereka. Dengan eksistensi ragam tradisi dan budaya ini maka bangsa Indonesia memiliki identitas tersendiri, memiliki tradisi, adat-istiadat yang jauh berbeda dan tidak ditemukan ciri khasnya di bangsa dan Negara mana pun.
DAFTAR PUSTAKA
D.Hendropuspito, 1983. Sosiologi Agama, Yogyakarta: Kanisius.
Dadang Kahmad, 2000. Sosiologi Agama, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
http://islam-penamuda.blogspot.com/2007/11/kepercayaan-animisme-dan-dinamisme.
Munawar M.Saad.2005. Islam di Kabupaten Sambas, Khatulistiwa Journal Of Islamic Studies, Edisi Khusus Juni, Pontianak: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAIN Pontianak.


[1] Kata animisme berasal dari bahasa latin, yaitu anima yang berarti 'roh'. Kepercayaan animisme adalah kepercayaan kepada makhluk halus dan roh. Keyakinan ini banyak dianut oleh bangsa-bangsa yang belum bersentuhan dengan agama wahyu.
Paham animisme mempercayai bahwa setiap benda di bumi ini (seperti laut, gunung, hutan, gua, atau tempat-tempat tertentu), mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar jiwa tersebut tidak mengganggu manusia, atau bahkan membantu mereka dalam kehidupan ini.
Dinamisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu dunamos, sedangkan dalam bahasa Inggris berarti dynamic dan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan arti kekuatan, daya, atau kekuasaan. Definisi dari dinamisme memiliki arti tentang kepercayaan terhadap benda-benda di sekitar manusia yang diyakini memiliki kekuatan ghaib.
Dalam Ensiklopedi umum, dijumpai defenisi dinamisme sebagai kepercayaan keagamaan primitif yang ada pada zaman sebelum kedatangan agama Hindu di Indonesia. Dinamisme disebut juga dengan nama preanimisme, yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda atau makhluk mempunyai daya dan kekuatan (http://islam-penamuda.blogspot.com/2007/11/kepercayaan-animisme-dan-dinamisme.html).
[2] Ratteh adalah sebutan untuk bahan sesajian yang terbuat dari padi yang dionseng seperti Pop Corn.
[3] Emping adalah padi yang oseng sebentar lalu ditumbuk sampai berbentuk pipih dengan penumbuk padi (alok) yang kebayakan dilakukan oleh kaum wanita Melayu sambas. Penumbukan padi dilakukan secara kumpul bersama baik satu keluarga, tetangga, kerabat dekat atau sekampung dan ini dikenal sebagai kegiatan”ngamping”.

0 komentar:

Poskan Komentar

NASYID & RELIGI ISLAMI


MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com
 
Free Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design