Minggu, 29 April 2012

Pengaruh Islam Pada Suku Dayak Kalimantan Barat

PENDAHULUAN

Islam tidak dikenal sebatas ajaran suatu agama untuk umat manusia. Melainkan juga dikenal sebagai suatu sistem norma yang mampu menjadi pedoman umat manusia di berbagai aspek kehidupan. Satu di antara aspek yang disentuh dalam Islam adalah aspek sosial di masyarakat. Dan kita ketahui bahwa masyarakat adalah tempat berhimpunnya dan membaurnya beragam perbedaan baik suku, ras, agama, maupun golongan. Keragaman tersebut tidak akan pernah berhimpun dan membaur pada suatu daerah tertentu tanpa adanya dorongan yang kuat dari masing-masing kelompok untuk bersatu dan saling merhargai satu dengan lainnya.

Dengan situasi dan kondisi masyarakat tersebut tentu ada salah satu norma yang mampu mempengaruhi individu atau kelompok tertentu untuk menjaga keharmonisan dalam bermasyarakat. Dalam hal ini agama yang cukup dikenal toleransinya terhadap keberagaman adalah Islam. Islam menjadi pelopor terwujudnya kerukunan antar sesama. Sebab ajaran yang universal sangatlah bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Keragaman suku, ras, golongan, dan sebagainya tidak menjadi penghalang manusia untuk saling kenal-mengenal satu dengan yang lain. Sehingga, hubungan yang harmonis terjalin. 

Daerah kalimantan Barat dihuni oleh aneka ragam suku bangsa, seperti Melayu dan Dayak sebagai suku bangsa pribumi[1] yang mula-mula mendiami daratan Kalimantan Barat. Selain itu, terdapat juga suku-suku bangsa pribumi pendatang, yang antara lain adalah Bugis, Jawa, Madura, Minangkabau, Sunda, Batak, dan lain-lain hingga jumlahnya dibawah 1%, serta etnis Cina-Indonesia sebagai bangsa imigran dari Tiongkok/RRC.[2] Pada masyarakat Kalimantan Barat, terdapat tiga etnik besar yang mendiami propinsi ini antara lain Dayak, Melayu, dan Cina. Keharmonisan hubungan ketiga etnik tersebut menjadikan mereka tetap eksis sampai sekarang. Bahkan ada sebagian dari mereka yang melakukan akulturasi melalui pernikahan antarsuku. Dengan itu hubungan mereka semakin erat. Entah apa yang menjadi pendorong mereka sehingga mampu mempertahankan keharmonisan tersebut. Apakah karena faktor lingkungan alam yang sejuk, karakter yang sudah terbangun pada masing-masing etnik, ataukah keterkaitan sejarah asal-usul etnik mereka. Semoga pertanyaan tersebut dapat dijawab melalui pembahasan makalah ini.

Pada umumnya sebagian masyarakat kita masih beranggapan bahwa suku Dayak identik dengan penganut kepercayaan animisme, totemisme dan Kristen. Asumsi ini beranjak dari paradigma masyarakat untuk menggeneralkan sesuatu yang dominan atau diukur dari kuantitasnya. Sebagian besar suku Dayak memang masih menganut kepercayaan nenek moyang mereka dan beragama Kristen. Tapi tidaklah seluruhnya. Ternyata di kalangan Dayak ada yang muslim dan dapat membentuk permukiman sendiri seperti di Embau, Kapuas Hulu.[3]

Dari fakta lapangan (Dayak muslim) yang ditemukan tersebut penulis tertarik untuk membahas bagaimana dampak ajaran Islam pada suku Dayak di Kalimantan Barat. Adakah keterkaitannya dengan suku Melayu dan suku lain yang diidentikan mayoritas beragama Islam. 

Adapun sub pokok bahasan yang penulis pilih pada makalah ini adalah:
1. Mengenal dan Memahami Suku Dayak;
2. Kedekatan Suku Dayak dengan Suku lain yang Beragama Islam;
3. Pengaruh Islam pada Masyarakat Dayak di Embau

Semoga dengan pemaparan sub bahasan berikut ini tidak sekedar memberikan gambaran bahwa masyarakat dayak terbuka dengan ajaran agama. Namun juga dapat membuka mata pikiran untuk meluruskan pemahaman masyarakat kita dalam memandang mereka (suku Dayak) sebagai suku yang kasar, jauh dari kemajuan zaman dan anggapan yang mendeskreditkan orang Dayak secara keseluruhan menjadi penilaian-penilaian yang positif dan lebih obyektif. Sehingga, mendorong suku Dayak untuk berkarya dan bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

Sebelum mengetahui lebih jauh bagaimana pengaruh Islam pada Masyarakat Dayak, terlebih dulu kita kaji sekilas asal-usul suku Dayak yang hidup di Kalimantan Barat.
  1. Mengenal dan Memahami Suku Dayak
Etnis Dayak Kalimantan menurut seorang antropologi J.U. Lontaan, 1975 dalam Bukunya Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil, yang menyebar di seluruh Kalimantan. Kuatnya arus urbanisasi yang membawa pengaruh dari luar, menyebabkan mereka menyingkir semakin jauh ke pedalaman dan perbukitan di seluruh daerah Kalimantan.[4]
Dayak adalah nama kelompok besar suku bangsa yang terdiri atas ratusan anak suku, di antaranya, Iban, Ngaju, Khayaan, Kanayatn, Maanyan, Dusun, dan Ot Danum. Suku Dayak merupakan penduduk asli Pulau Kalimantan[5], tersebar di seluruh pelosok Kalimantan, bahkan sampai di Sarawak dan Sabah, Malaysia Timur, dan Brunei Darussalam. Anak-anak suku tersebut mempunyai budaya dan adat-istiadat sendiri yang berbeda satu sama lainnya. Namun, mereka memiliki kesamaan dalam pola perladangan dan mengelola alam lingkungan. Mereka juga memiliki sejumlah ritual yang sama dalam berbagai segi kehidupan, seperti kelahiran, perladangan, dan kematian, walaupun dengan bentuk dan cara yang berbeda. Kesamaan-kesamaan ini menjadi pengikat batin orang Dayak sehingga merasa satu. (Petronella Regina )

Orang (suku) Dayak sangat menghargai adat istiadat dan ritualnya. Oleh karena itu, orang yang “tidak tahu adat”, walaupun berasal dari kelompok mereka sendiri, biasa dikucilkan dari masyarakatnya. 

Kata “Dayak”[6] sebenarnya sempat menjadi perdebatan di kalangan orang Dayak sendiri karena Nama "Dayak" atau "Daya" adalah nama eksonim (nama yang bukan diberikan oleh mayarakat itu sendiri) dan bukan nama endonim (nama yang diberikan oleh masyarakat itu sendiri).[7] Nama itu adalah nama pemberian orang luar (Belanda) dan dianggap bermakna negatif. Orang Dayak sendiri menyebut diri mereka sesuai dengan asalnya, seperti orang Mualang, orang Merakai, dan orang Banyuke. Sementara itu, untuk menyatakan kesamaan, mereka menyebut orang kita Iban, orang kita Simpakng, atau orang kita Kantu’. Oleh orang luar (Melayu), orang Dayak sering juga disebut sebagai orang Darat atau orang Hulu.[8] Hal ini mungkin disebabkan tempat tinggal orang Dayak yang cenderung menuju ke hulu atau pedalaman (darat) bila terdesak. Kata /daya/ dalam bahasa Kanayatn berarti ‘hulu’. Sebutan-sebutan ini memberikan stereotip negatif[9] pada orang Dayak yang-pada 1970-an sampai dengan 1980-an-sempat menjadikan krisis identitas pada sebagian besar orang Dayak, khususnya di Kalimantan Barat (Kalbar). Banyak orang Dayak yang malu atau tidak mau mengaku Dayak, khususnya mereka yang bermigrasi ke kota. Bila mereka masuk Islam, mereka mengaku dirinya sebagai orang Melayu dan bukan orang Dayak.

Namun, keadaan itu mulai berubah sejak awal tahun 1990-an. Cendekiawan Dayak memelopori kebangkitan kepercayaan diri orang Dayak sebagai manusia yang berbudaya dan yang mempunyai derajat yang sama dengan suku lain. Pada akhir tahun ‘90-an, orang Dayak yang beragama Islam di Pontianak, yang semula mengaku dirinya orang Melayu, bahkan mulai bangkit dengan menghimpun diri dalam organisasi yang disebut “Ikatan Keluarga Dayak Islam.” Mungkin ini merupakan salah satu bentuk gerakan apa yang oleh Mering Ngo (Kompas, 4 Maret 2001) disebut sebagai revolusi identitas (identity revolution) orang Dayak.[10]

Orang Dayak pada dasarnya tidak mempunyai sifat pendendam. Mereka cenderung diam walaupun hatinya disakiti atau dihina. Mereka lebih suka berdamai daripada harus berurusan/berkelahi untuk memperebutkan sesuatu, meskipun sesuatu itu adalah hak mereka sendiri. Oleh karena itu, orang Dayak tak pernah memulai perkelahian. Namun, bila sudah terlalu sering disakiti dan perkelahian dimulai oleh pihak lain, secara spontan dan kompak orang Dayak akan menjadi beringas dan sulit dikendalikan.

Orang Dayak juga senang bergaul dan mudah beradaptasi dengan lingkungan. Mereka sangat menghargai tamu/pendatang dan dapat hidup berdampingan dengan suku bangsa apa pun. Sebagai contoh, bila ada tamu datang ke rumah atau ke desa mereka, mereka akan sibuk sekali menyiapkan/mengadakan segala sesuatu yang layak untuk menjamu tamunya dengan baik. Sebuah keluarga yang sehari-hari tidak pernah menggunakan minyak goreng atau bumbu-bumbu ketika memasak makanan untuk mereka sendiri, misalnya, ketika ada tamu, mereka akan menyediakannya untuk menjamu tamunya. Tamu adalah raja yang harus dilayani dan dihormati melebihi pelayanan terhadap anggota keluarganya sendiri.

Dalam pergaulan, orang Dayak juga santun dan sabar. Sikap ini membuat mereka tidak suka ngotot dan lebih suka mengalah dalam menghadapi masalah. Mereka juga biasa bicara apa adanya (polos) sehingga sering terkesan kurang mampu berdiplomasi. Sifat ini merupakan kelebihan sekaligus kelemahan orang Dayak yang sebagian besar berpendidikan rendah dan bahkan ada yang belum pernah mengecap pendidikan formal.

Masyarakat Dayak tidak hanya menjalin hubungan erat dengan sesama, tetapi mereka juga sangat dekat hubungannya dengan alam dan makhluk lain yang hidup di sekitar mereka, termasuk dengan roh leluhurnya. Kedekatan hubungan ini dinyatakan dengan banyaknya ritual yang dilakukan untuk menjaga keharmonisan hubungan tersebut. Dalam lingkungan masyarakat Dayak banyak sekali ditemui tempat dan benda-benda keramat, seperti sandung, tembawang leluhur, air (bagian dari sungai), tempat-tempat penyembahan leluhur, mandau, dan tempayan induk (Kanayatn: tapayatn tuha). Tempat-tempat keramat ini tidak boleh sembarangan dimasuki, apalagi dibabat orang, sehingga pemeliharaan keramat ini berarti juga pemeliharaan kelestarian alam.

Kehidupan rumah panjang memupuk rasa kebersamaan dan solidaritas dalam diri orang Dayak. Mereka juga mempunyai toleransi yang tinggi terhadap sesama. Bila salah satu dari anggota kelompoknya disakiti, semua akan merasa bertanggung jawab untuk membelanya. Karena itu muncullah gerakan massa sebagai akibat dari perlakuan yang tidak baik terhadap satu individu. Bila hal ini terjadi dalam kelompok sendiri, masalahnya mudah diselesaikan dengan menurunkan “hukum adat” terhadap kelompok/pihak yang bersalah dan semuanya bisa kembali seperti sediakala. Namun, bila hal ini terjadi dengan kelompok lain yang sangat berbeda budayanya, hukum adat sulit diberlakukan karena sering dilanggar oleh pihak yang tidak tahu atau tidak mau tahu mengenai adat setempat. Hal inilah yang dapat menimbulkan kerusuhan massa yang berlarut-larut.

2. Kedekatan Suku Dayak dengan Suku lain yang Beragama Islam
a. Hubungan Dayak dengan Melayu

Latar Belakang Sejarah

Propinsi Kalimantan Barat mempunyai keunikan tersendiri terhadap proses alkurturasi kultural atau perpindahan suatu kultur religius bagi masyarakat setempat. Dalam hal ini proses tersebut sangat berkaitan erat dengan dua suku terbesar di Kalimantan Barat yaitu Dayak dan Melayu. Pada mulanya Bangsa Dayak mendiami pesisir Kalimantan Barat, hidup dengan tradisi dan budayanya masing-masing, kemudian datanglah pedagang dari gujarab beragama Islam (Arab Melayu) dengan tujuan jual-beli barang-barang dari dan kepada masyarakat Dayak, kemudian karena seringnya mereka berinteraksi, bolak-balik mengambil dan mengantar barang-barang dagangan dari dan ke Selat Malaka (merupakan sentral dagang di masa lalu), menyebabkan mereka berkeinginan menetap di daerah baru yang mempunyai potensi dagang yang besar bagi keuntungan mereka.

Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Dayak ketika bersentuhan dengan pendatang yang membawa pengetahuan baru yang asing ke daerahnya. Karena sering terjadinya proses transaksi jual beli barang kebutuhan, dan interaksi cultural, menyebabkan pesisir Kalimantan Barat menjadi ramai, di kunjungi masyarakat lokal (Dayak) dan pedagang Arab Melayu dari Selat Malaka. Di masa itu system religi masyarakat Dayak mulai terpengaruh dan dipengaruhi oleh para pedagang Melayu yang telah mengenal pengetahuan, pendidikan dan agama Islam dari luar Kalimantan. Karena hubungan yang harmonis terjalin baik, maka masyarakat lokal atau Dayak, mulai menaruh simpati kepada pedagang Gujarat tersebut yang lambat laun terpengaruh, maka agama Islam diterima dan dikenal pada tahun 1550 M di Kerajaan Tanjung Pura pada penerintahan Giri Kusuma dan lambat laun mulai menyebar di Kalimantan Barat.

Sebelumnya, masyarakat Dayak masih memegang teguh kepercayaan dinamismenya, mereka percaya setiap tempat-tempat tertentu ada penguasanya, yang mereka sebut: Jubata, Petara, Ala Taala, Penompa dan lain-lain, untuk sebutan Tuhan yang tertinggi, kemudian mereka masih mempunyai penguasa lain dibawah kekuasaan Tuhan tertingginya: misalnya: Puyang Gana ( Dayak mualang) adalah penguasa tanah , Raja Juata (penguasa Air), Kama”Baba (penguasa Darat) dan lain-lain. Bagi mereka yang masih memegang teguh kepercayaan dinamisme nya dan budaya aslinya nya, mereka memisahkan diri masuk semakin jauh kepedalaman.

Masyarakat Dayak yang telah masuk agama Islam lebih banyak meniru gaya hidup pendatang yang dianggap telah mempunyai peradaban maju karena banyak berhubungan dengan dunia luar. (Dan sesuai perkembangannya maka masuklah para misionaris dan misi kristiani/nasrani ke pedalaman). Pada umumnya masyarakat Dayak yang telah memeluk agama Islam di Kalimantan Barat merasa enggan untuk disamakan dengan suku Dayak yang masih asli (memegang teguh kepercayaan nenek moyang) di masa lalu, hingga mereka berusaha menguatkan perbedaan, mulai dari agama barunya dan aturan keterikatan dengan adat istiadatnya. Setelah penduduk pendatang di pesisir berasimilasi dengan suku Dayak yang masuk Islam, sejalan terjadinya urbanisasi ke kalimantan, menyebabkan pesisir Kalimantan Barat menjadi ramai, karena semakin banyak di kunjungi pendatang baik local maupun nusantara lainnya.

Untuk mengatur daerah tersebut maka tokoh yang menjadi panutan di percaya oleh masyarakat setempat diangkat menjadi pemimpin atau diberi gelar Penembahan (istilah yang dibawa pendatang untuk menyebut raja kecil ) penembahan ini hidup mandiri dalam suatu wilayah kekuasaannya berdasarkan komposisi agama yang dianut sekitar pusat pemerintahannya, dan cenderung mempertahankan wilayah tersebut. Namun ada kalanya penembahan tersebut menyatakan tunduk terhadap kerajaan dari daerah asalnya, demi keamanan ataupun perluasan kekuasaan.

Masyarakat Dayak yang beragama Islam ataupun yang telah menikah dengan pendatang Melayu disebut dengan Senganan, atau masuk senganan/masuk Laut, dan kini mereka mengklaim dirinya dengan sebutan Melayu.[11] Mereka mengangkat salah satu tokoh yang mereka segani baik dari ethnisnya maupun pendatang yang seagama dan mempunyai karismatik di kalangannya, sebagai pemimpin kampungnya atau pemimpin wilayah yang mereka sebut Penembahan.[12]

b. Hubungan Dayak dengan Banjar

Hubungan Persaudaraan Suku-suku Dayak dan Suku Banjar

Sejak jaman dahulu telah terjadi hubungan persaudaraan dan ikatan kekeluargaan serta toleransi yang tinggi antara suku-suku Dayak dan suku Banjar.[13]
 
Perkawinan Sultan Banjar dengan Puteri-puteri Dayak 

Dari tradisi lisan suku Dayak Ngaju dapat diketahui, isteri Raja Banjar pertama yang bernama Biang Lawai beretnis Dayak Ngaju. Sedangkan isteri kedua Raja Banjar pertama yang bernama Noorhayati, menurut tradisi lisan Suku Dayak Maanyan , berasal dari etnis mereka. Jadi perempuan Dayaklah yang menurunkan raja-raja Banjar yang pernah ada. Dalam Hikayat Banjar menyebutkan salah satu isteri Raja Banjar ketiga Sultan Hidayatullah juga puteri Dayak, yaitu puteri Khatib Banun, seorang tokoh Dayak Ngaju. Dari rahim putri ini lahir Marhum Panembahan yang kemudian naik tahta dengan gelarDayakTionghoa-Indonesia yaitu Nyai Dawang. Sultan Mustainbillah. Putri Dayak berikutnya adalah isteri Raja Banjar kelima Sultan Inayatullah, yang melahirkan Raja Banjar ketujuh Sultan Agung. Dan Sultan Tamjidillah (putera Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam) juga lahir dari seorang putri berdarah campuran

Sultan Muhammad Seman

Salah satu sayap militer Pangeran Antasari yang terkenal tangguh dan setia, adalah kelompok Suku Dayak Siang Murung dengan kepala sukunya Tumenggung Surapati. Hubungan kekerabatan sang pangeran melalui perkawinannya dengan Nyai Fatimah yang tak lain adalah saudara perempuan kepala suku mereka, Surapati. Dari puteri Dayak ini lahir Sultan Muhammad Seman yang kelak meneruskan perjuangan ayahnya sampai gugur oleh peluru Belanda tahun 1905 . Dalam masa perjuangan tersebut, Muhammad Seman juga mengawini dua puteri Dayak dari Suku Dayak Ot Danum . Puteranya, Gusti Berakit, ketika tahun 1906 juga mengawini putri kepala suku Dayak yang tinggal di tepi sungai Tabalong . Sebagai wujud toleransi yang tinggi, ketika mertuanya meninggal, Sultan Muhammad Seman memprakarsai diselenggarakannya Adat rukun kematian Kaharingan , yaitu upacara pemakaman secara adat Dayak (Kaharingan).

Puteri Mayang Sari

Putri Mayang Sari yang berkuasa di Jaar-Singarasi, kabupaten Barito Timur adalah puteri dari Raja Banjar Islam yang pertama (Sultan Suriansyah) dari isteri keduanya Norhayati yang berdarah Dayak, cucu Labai Lamiah tokoh Islam Dayak Maanyan. Walau Mayang Sari beragama Islam , dalam memimpin sangat kental dengan adat Dayak, senang turun lapangan mengunjungi perkampungan Dayak dan sangat memperhatikan keadilmakmuran masyarakat Dayak di masanya. Itu sebabnya ia sangat dihormati dan makamnya diabadikan dalam Rumah Banjar di Jaar, kabupaten Barito Timur .(Marko Mahin, 2005)

Dammung Sayu

Dammung Sayu merupakan seorang pemimpin masyarakat suku Dayak MaanyanBelanda . Karena itu akhirnya Belanda membumihanguskan perkampungan suku ini yang terletak di Desa Magantis, Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur . Pihak kerajaan Banjar yang berjuang melawan penjajah Belanda mengangkat Dammung Sayu sebagai panglima dengan gelarkerajaan . Paju Sapuluh yang telah berjasa dalam membantu salah seorang kerabat raja Banjar yang bersembunyi di wilayahnya dari pengejaran pihak Tumenggung dan memberikan seperangkat payung kuning dan perlengkapan

Sangiang

Toleransi antara suku Banjar dan Dayak , juga dapat dilihat dari sastera suci suku Dayak Ngaju , Panaturan . Digambarkan disana, Raja Banjar (Raja Maruhum) beserta Putri Dayak yang menjadi isterinya Nyai Siti Diang Lawai adalah bagian leluhur orang Dayak Ngaju. Bahkan mereka juga diproyeksikan sebagai sangiang (manusia illahi) yang tinggal di Lewu Tambak Raja, salah satu tempat di Lewu Sangiang (Perkampungan para Dewa). Karena Sang Raja beragama Islam maka disana disebutkan juga ada masjid .(Marko Mahin, Urang Banjar, 2005)

Balai Hakey

Secara sosiologis - antropologis antara etnis Banjar dan Dayak diibaratkan sebagai dangsanak tuha dan dangsanak anum (saudara tua dan muda). Urang Banjar yang lebih dahulu menjadi muslim disusul sebagian etnis Dayak yang bahakey (berislam), saling merasa dan menyebut yang lain sebagai saudara. Mereka tetap memelihara toleransiAdat rukun kematian Kaharingan , tewah dan sejenisnya, komunitas Dayak selalu menyediakan Balai Hakey, tempat orang muslim dipersilakan menyembelih dan memasak makanannya sendiri yang dihalalkan menurut keyakinanIslam . hingga kini. Tiap ada upacara

Intingan dan Dayuhan

Toleransi antara suku Banjar dengan suku Dayak Bukit di pegunungan Meratus di daerah Tapin di Kalimantan Selatan , juga dapat dilihat pada mitologi suku bangsaIslam . tersebut. Dalam pandangan mereka, Urang Banjar adalah keturunan dari Intingan, yaitu dangsanak anum (adik) dari leluhur mereka yang bernama Dayuhan. Meskipun kokoh dengan kepercayaan leluhur, suku Dayak Bukit selalu menziarahi Masjid Banua Halat yang menurut mitologi mereka dibangun oleh Intingan, ketika saudara leluhur mereka tersebut memeluk agama 

4. Pengaruh Islam pada Masyarakat Dayak di Embau
Sekilas tentang sejarah dan perkembangan Islam di Embau akan dipaparkan di sini.
Yusriadi (2005: 2) mengatakan Embau menjadi seperti kantong bagi Islam di pedalaman Kalbar karena di wilayah lain di ceruk pulau ini Islam tidak menyebar dengan merata.[14] Khususnya di kawasan sungai Embau di daerah Kapuas hulu.
Agama Islam sudah dianut orang embau sejak beberapa generasi terdahulu. Hal ini ada hubungannya dengan Kerajaan Islam yang pertama di Kampung Parit (Jongkong) yang diperintah oleh Pangeran Abang Abdul Arab antara tahun 1800-1900 (Mohd malik, dkk dalam Yusriadi,2005: 4)

Belum diketahui siapa dai dan guru agama yang menyebarkan agama Islam pada masa itu. Hanya beberapa nama yang disebutkan yang pernah datang ke Embau pada awal abad ke-20. Seperti Lebai Cama, Lebang (Lebai) Dampun, Lebai Ngiril, Syeh Abdurrahman dari Thaif, Madinah, H. Abdul Hamid dari Palembang, Muhtar Zaini dari Sumatera Barat, Sulaiman dari Nanga Pinoh, H. Muhtar Idris dari Ordang, Sumatera barat, H. Ahmad dari Jongkong.[15]

Mereka menjadi guru ngaji (mengajarkan membaca Al Quran) fiqh, dan lain-lain baik dirumah maupun di masjid.[16] Sungguh mulia tugas para guru agama tersebut. Mereka mengetahui dan memahami bahwa Islam tidak akan dikenal oleh masyarakat suku pedalaman jika tidak disampaikan. Melalui beragam metode pengajaran ilmu agama inilah mereka mulai melakukan pendekatan setaham demi setahap kepada suku Dayak.
Satu diantara pendekatan yang menarik masyarakat pedalaman adalah dengan mengajarkan “mantra-mantra” tertentu yang mengandung sejumlah ayat Al-Quran dan simbol-simbol formulaik dalam islam seperti lafadz tahlil, basmalah, nama Nabi Muhammad, dan lainnya. Penyebutan “mantra-mantra” tersebut didekatkan dengan keyakinan lama masyarakat. Sehingga sinkretisme tumbuh dengan sendirinya.[17]
Selain itu pendidikan secara formal juga dilakukan sehingga lambat laun berdirilah beberapa lembaga pendidikan seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan madrasah Aliyah. Masyarakat yang belajar ilmu agama bukan saja dari daerah sekitar sungai Embau. Melainkan juga dari Bunut, Putussibau, Selimbau, dan tanah Pinoh, Sintang.[18] Sungguh perkembangan yang luar biasa dan inilah sejarah yang tidak akan pernah terlupakan bagi masyarakat pedalaman. Karena melalui masuknya Islam ke tanah mereka dan mereka mau menerima ajarannya, pada dasarnya mereka telah memiliki kemajuan berpikir dan mau mengubah cara pandang orang lain yang keliru terhadap mereka. Buktinya mereka mampu mengenyam pendidikan formal meskipun berada di kawasan pedalaman yang jauh dari modernisasi dan pembangunan. Suasana alam yang masih murni menjadi tempat pendukung yang baik untuk belajar ilmu agama dan yang lainnya. 

Saat ini Embau merupakan kawasan yang mayoritas penduduknya beragama Islam.[19] Islamisasi yang dilakukan sejak awal abad ke-19 tidaklah sia-sia. Namun, tidak berarti dakwah melalui pengajaran agama di berbagai bidang pada kawasan ini berhenti hanya sampai di sini. Bagi para Da’i dan da’iyah ustdz dan ustadzah, guru, dan mereka yang telah mengenyam pendidikan tinggi harus terus melakukan tugas dan kewajibannya masing-masing. Dan wilayah inilah yang dapat dijadikan contoh nyata sebagai penyusunan strategi dakwah ke beberapa kawasan yang belum sempat tersentuh oleh Islam. Bahkan jika orang-orang yang telah mengabdikan dirinya di sana bahu-membahu, Embau akan menjadi pusat pengembangan dakwah Islam untuk masyarakat pedalaman Kalimantan barat.


REFERENSI

La Ode, M.D. Tiga muka etnis Cina-Indonesia: Fenomena di Kalimantan Barat (Perspektif ketahanan Nasional). Yogyakarta: Bigraf, 1997.
Yusriadi, Penyebaran Islam di Sungai Embau, Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Khatulistiwa Journal of Islamic Studies, Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat STAIN Pontianak, 2005
http://cybersastra.net/cgi-bin/naskah/viewesai.cgi?category=5&id=1031961132
kb.8m.com/pp.htm+pribumi+kalimantan+barat,+dayak&hl=id&ct=clnk&cd=3&gl=id&client=firefox-a
http://soborneo.blogspot.com/ http://indonzia.hu.wikiax.biz/id/Ot%20Danum



[1] Pribumi adalah sebutan bagi penduduk Indonesia yang berasal dari suku-suku asli di Indonesia.(http://id.wikipedia.org/wiki/Pribumi)
[2] Biro Hubungan Masyarakat Sekretariat Wilayah Daerah Tingkat I Kalimantan Barat, 1998.
[3] Penelitian yang dilakukan oleh Yusriadi dan Hermansyah di Embau, Kapuas Hulu.
[4] http://id.wikipedia.org/wiki/Seni_Tradisional_Dayak
[5] Juga disebutkan pada http://id.wikipedia.org/wiki/Seni_Tradisional_Dayak
[6] Menurut Mahmud Akil dalam tulisannya tentang Fenomena Etnisitas di Kalimantan Barat, Istilah “Dayak” itu dianggap sebagai penghinaan pada zaman penjajahan Belanda. Beberapa ahli ilmu sosial mengatakan bahwa sebutan “Dayak” memiliki arti yang sepadan dengan kata-kata: “Orang Udik”, “Orang Darat”, “Orang Kolot” atau “Orang Dusun” (M.D. LaOde, Tiga Muka Etnis Cina-Indonesia, Bigraf Publishing, Yogyakarta, 1997, h. 24)
[7] http://id.wikipedia.org/wiki/Seni_Tradisional_Dayak
[8] Kata Dayak berasal dari kata Daya” yang artinya hulu, untuk menyebutkan masyarakat yang tinggal di pedalaman atau perhuluan Kalimantan umumnya dan Kalimantan Barat khususnya, (walaupun kini banyak masyarakat Dayak yang telah bermukim di kota kabupaten dan propinsi) yang mempunyai kemiripan adat istiadat dan budaya dan masih memegang teguh tradisinya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Seni_Tradisional_Dayak)
[9] Stereotip yang melekat pada orang Dayak adalah bahwa orang Dayak itu peladang berpindah yang menjadi penyebab kerusakan hutan dan lingkungan. Orang Dayak malas sehingga mereka selalu hidup miskin dan kerusuhan yang terjadi adalah akibat kecemburuan sosial. Padahal, orang Dayak mempunyai sistem sendiri yang lebih arif dalam mengelola hutan dan sumber daya alam sesuai dengan kondisi alam Kalimantan yang unik. Dalam kerusuhan, seperti yang terjadi di Sampit dan beberapa daerah di Kalimantan Barat, mereka berjuang untuk mempertahankan diri dan memperjuangkan martabat dan harga diri mereka sebagai manusia beradat yang sejak lama ditekan dan dilecehkan. (http://cybersastra.net/cgi-bin/naskah/viewesai.cgi?category=5&id=1031961132)
[10] Orang Dayak hidup di dalam lingkungan alam yang keras. Untuk menghadapi kekerasan alam tersebut mereka hidup berkelompok dan bergotong-royong, seperti ketika mereka membuka lahan perladangan baru (barudas) atau ketika membangun pemukiman baru (rumah panjang). Setiap segi kehidupan orang Dayak diatur oleh adat dan budaya yang diwariskan nenek moyang mereka. Apapun agama baru yang dianut orang Dayak, sebagian besar mereka tetap memegang teguh adat leluhur. Keyakinan akan kuatnya peran leluhur dalam menjaga keharmonisan hidup orang Dayak dan kelestarian alam lingkungannya membuat orang Dayak sangat menghormati peninggalan leluhur. Hubungan mereka dengan roh para leluhur juga sangat erat sehingga mereka sering melakukan kontak melalui para tokoh spiritual Dayak, seperti dukun dan pemuka adat (pangalima), khususnya bila masyarakat Dayak terancam jiwa dan harta bendanya. (http://cybersastra.net/cgi-bin/naskah/viewesai.cgi?category=5&id=1031961132)
[11] Hal demikian dikenal dengan “proses Melayunisasi” melalui media “Islamisasi”. Pada saat itu, agama Islam disebarkan oleh suku bangsa Melayu dari Malaka dan dari Sumatera yang ditopang oleh suku-suku bangsa penganut agama Islam, antara lain suku bangsa Semit, Saud, India dan Pakistan. Sasarannya adalah meng-Islam-kan suku bangsa pedalaman (Dayak) Kalimantan. Akibat dari islamisasi ini sebagian suku bangsa pedalaman tersebut melepaskan identitasnya sebagai “Orang Dayak” menjadi “Orang Melayu”. (La Ode, M.D. Tiga muka etnis Cina-Indonesia: Fenomena di Kalimantan Barat (Perspektif ketahanan Nasional). Yogyakarta: Bigraf, 1997, h. 21)
[12] http://id.wikipedia.org/wiki/Seni_Tradisional_Dayak
[13] http://soborneo.blogspot.com/ http://indonzia.hu.wikiax.biz/id/Ot%20Danum
[14] Yusriadi, Penyebaran Islam di Sungai Embau, Kapuas Hulu (Kalimantan Barat),Pontianak, 2005,h. 2 Khatulistiwa Journal of Islamic Studies, Pusat Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat STAIN
[15] ibid. h. 5
[16] ibid
[17] ibid.h. 6
[18] ibid
[19] ibid

0 komentar:

Poskan Komentar

NASYID & RELIGI ISLAMI


MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com
 
Free Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design